muhammad.abdulloh10 on January 5th, 2014

Flexibility and Efficiency  merupakan point ke-7  dari 10 Usability Heuristics for User Interface Design.Fleksibilitas dan efisiensi dari penggunaan website ini menurut saya sudah cukup baik. Pengunjung baru ataupun lama dapat memahami secara keseluruhan penggunaan dari website ini. Bagaimana cara melihat produk-produk yang ditawarkan hingga bagaimana cara melakukan pemesanan dapat dipahami pengunjung dengan mudah. Namun saya menemukan kekurangan, ketika saya sedang berada pada halaman resensi maka saya tidak bisa melakukan proses buku yang telah berada di keranjang belanja.

warning

 

Dalam hal ini saya meberikan nilai Severity Ratings (Nielsen 1995b) pada skala 2. Rekomendasi saya, Sebaiknya kejadian pengunjung  tidak bisa melakukan proses buku yang telah berada di keranjang belanja ketika pengunjung sedang berada pada halaman resensi diperrbaiki sehingga fleksibilitas dan efisiensi meningkat.

Tags:

muhammad.abdulloh10 on January 5th, 2014

User Control and Freedom merupakan point ke-3 dari 10 Usability Heuristics for User Interface Design. Poin ini menyangkut pada adanya peringatan atau pilihan yang jelas ketika pengunjung tidak sengaja melakukan kesalahan. Misalnya ketika pengujung sedang mengecek isi keranjang belanjanya, namun tidak sengaja menghapus salah satu produk yang telah dipesan. Website ini mengakomodir adanya peringatan kepada pengguna apakah benar-benar akan menghapus produk tersebut. Dengan begini, pengguna akan menyadari kesalahannya dan dapat memilih “cancel”.

cancel

Dalam hal ini saya meberikan nilai Severity Ratings (Nielsen 1995b) pada skala 0.

Tags:

muhammad.abdulloh10 on January 5th, 2014

Recognition Rather Than Recal merupakan poin ke-6 dari 10 Usability Heuristics for User Interface Design. Poin ini memandang suatu antarmuka yang baik adalah yang dapat mengurangi kewajiban pengunjung dalam mengingat suatu informasi. Salah satunya adalah dalam formulir pemesanan juga. Ketika pengunjung lupa memasukkan kolom yang wajib diisi, atau mengisi tidak sesuai dengan yang diminta, maka selain adanya informasi kesalahan, isian yang pernah diisikan sebelumnya masih akan tampak. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi pengunjung untuk memperbaiki kesalahannya tanpa perlu mengisi formulir dari awal kembali. Tetapi untuk Nama Kota/Wilayah pengunjung masih harus memilihnya kembali.

reconnation

Dalam hal ini saya meberikan nilai Severity Ratings (Nielsen 1995b) pada skala 2. Rekomendasi saya, Sebaiknya Nama Kota/Wilayah dimasukkan juga ke dalam fungsi Recognition Rather Than Recall.

Tags:

muhammad.abdulloh10 on January 5th, 2014

Error Prevention merupakan poin ke-5 dari 10 Usability Heuristics for User Interface Design. Poin ke-5 ini menekankan fungsi antarmuka yang baik adalah yang dapat mencegah terjadinya masalah sejak awal. Pada website www.bukukita.com penerapan error prevention sudah baik. misalnya pada keranjang belanja. Terdapat 3 tombol utama yang dapat dipilih oleh pengunjung, yaitu tombol ubah, lanjutkan, dan kembali ke katalog buku. Pada bagian bawah keranjang belanja, ditampilkan keterangan fungsi untuk masing-masing tombol. Hal ini tentu saja dapat mencegah pengunjung untuk melakukan kesalahan dalam memilih tombol yang dimaksud.

keranjang belanja

 

Hal lain yang dilakukan oleh website ini untuk mencegah kesalahan adalah pada bagian formulir pemesanan. Ketika sesorang telah selesai berbelanja dan bermaksud mengisi formulir pesanan, maka akan diberikan dua pilihan yaitu melakukan login apabila telah pernah menjadi anggota atau mengisi formulir pemesanan yang ada di bawahnya apabila belum menjadi pernah menjadi anggota. Di dalam formulir pemesanan pada bagian pengisian alamat, telah dibatasi propinsi serta kota/wilayah yang dapat dipilih. Misalnya saya memilih  Provinsi Jawa Barat  maka hanya kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat saja yang dapat dipilih.

provinsi

Pencegahan kesalahan lainnya yang diberikan oleh tampilan antar muka website ini adalah adanya petunjuk-petunjuk atau peringatan pada baris isian formulir pemesanan.

keterangan

Dalam hal ini saya meberikan nilai Severity Ratings (Nielsen 1995b) pada skala 0.

 

Tags:

muhammad.abdulloh10 on January 5th, 2014

Visibility of System Status  merupakan poin ke-1 dari 10 Usability Heuristics for User Interface Design. Ada tidaknya keterangan bagi pengguna/pengunjung tentang keberadaannya pada halaman suatu website termasuk bagian dari Visibility of System Status. Pada website www.bukukita.com, navigasi bar tidak dapat digunakan sebagai penanda suatu halaman bagi para pengunjung. Ketika pengunjung memasuki suatu halaman tertentu, tidak terdapat perbedaan warna atau pun bentuk pada navigasi bar yang ada. Misalnya ingin masuk ke halaman “Lihat Buku“, ternyata tidak ada perubahan apapun pada navigasi bar ini. Padahal adanya perubahan pada navigasi bar yang sedang di buka akan cukup membantu pengunjung apalagi pengujung baru untuk dapat mengenali di halaman apa saat ini dia berada.

1Selain navigasi bar, penggunaan title pada tab browser juga akan cukup membantu pengunjung untuk mengenali halaman dari suatu website. Website www.bukukita.com telah memberikan keterangan yang cukup jelas pada title di masig-masing halaman. Misalnya, saya membuka 9 halaman sekaligus, kemudian saya sedang berada pada halaman atau website lain, saya masih tetap dapat mengenali mana halaman bukukita.com dan mana yang bukan.

title bar

Dalam hal ini saya meberikan nilai Severity Ratings (Nielsen 1995b) pada skala 1. Rekomendasi saya beri perbedaan warna atau pun bentuk pada navigasi bar yang sedang di buka.

 

 

Tags:

muhammad.abdulloh10 on September 22nd, 2010

Muhammad Fahmi Abdulloh

G54100085

Laskar 28 (Kemanusiaan)

Siswa Teladan Tidak Naik Kelas

Ketika aku sekolah di SMA, aku ngekos di daerah Slawi karena jarak rumahku dengan sekolah cukup jauh: 30 KM. Di kos-kosan aku tinggal bersama temanku yang bernama Setio.

Setelah setengah tahun aku ngekos disitu, ketika aku menginjak semester 2 kelas X, tiba-tiba datang seorang anak yang mau ngekos di tempat kos-kosanku juga, Dia bernama Nanda. Dia ternyata tidak ngekos sendirian, melainkan ngekos sama kakaknya yang bernama Azhar. Nanda ternyata satu sekolahan denganku tetapi dia kelas XI IPS, sedangkan aku kelas X dan Azhar, kakaknya, merupakan PNS dikalangan Pemkab Brebes.

Aku kagum sekaligus simpatik sama Azhar atas perhatian dan kepeduliannya yang sangat dalam terhadap Adiknya, hingga dia rela tinggal di kos untuk menemani Adiknya. Dia juga sangat perduli dengan keadaan Adiknya yang sedang dalam keadaan yang sangat tertekan. Dia rela menemani sekaligus mengajari Adiknya belajar setiap malam hari guna membantu Adiknya supaya mendapatkan nilai yang bagus ketika pembagian Raport semester 2 tiba.

Sebelum masuk SMA, Nanda bersekolah di MTs Negeri dan tinggal di Pondok Pesantren. Dia lulus MTs sebagai Siswa Teladan di sekolahnya. Awalnya setelah lulus MTs, dia ingin melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren yang ada di daerah Jawa Timur, namun dia dilarang Ibunya untuk sekolah di Jawa Timur karena Ibunya sangat khawatir akan kesehatan Nanda yang baru saja sembuh dari penyakit Typus. Akhirnya Dia melanjutkan sekolah ke SMA favorit di kabupaten Tegal.

Waktu di MTs dulu, dia tidak pernah bermain dengan perempuan karena kondisi di MTs yang tidak memungkinkan, yaitu kelas putra dan kelas putri dipisah. Sehingga ketika dia sekolah di SMA dia merasa canggung dan aneh. Suatu kejadian yang sangat lucu pernah terjadi pada dirinya, yaitu ketika ada teman perempuannya yang maen ke rumahnya, dia sangat gugup dan grogi. saat dia memegang gelas minum untuk diberikan kepada temannya, dia sangat gemeteran sehingga gelas yang dia pegang jatuh dan pecah di lantai. Dia ditertawakan sama keluarganya atas kejadian tersebut.

Ketika dia sekolah di SMA, dia juga masih tinggal di daerah Pondok Pesantren tetapi dia ikut ngekos di rumah Pengasuh Pondok Pesantrennya, karena di Pondok Pesantren ada peraturan yang melarang dia sekolah di luar lingkungan pondok. Sehingga dia merupakan santri yang sekolahnya jauh dan santri yang sekolahnya di SMA sendiri.

Dia di Pondok Pesantren sudah mulai merasa tidak betah karena dia selalu merasa iri dengan teman-teman kosnya yang kalau berangkat sekolah selalu santai, tidak kaya dirinya yang setiap hari harus mandi pagi-pagi supaya tidak ngantri dan selalu harus menunggu angkot yang mau menuju ke sekolahnya. Sehingga datang ke sekolah terlambat merupakan kebiasan yang sering dilakukannya. Apalagi kalau ada tugas kelompok atau pekerjaan rumah, dia selalu kesusahan karena kalau mau kemana-mana harus menggunakan angkot. Dia sudah merasa bosan dengan keadaan tersebut, sehingga dia kalau nyampai sekolah sudah terlambat, pasti dia tidak masuk sekolah.

Ketika di kelas XI IPS, dia kembali menemukan cahaya belajar yang pernah hilang, sehingga ketika menginjak semester 1 dia sangat bersemangat dalam belajar. Namun semangatnya kembali runtuh ketika dia disuruh oleh teman-teman kelompoknya untuk merangkum isi wawancara yang telah dikerjakan teman-temannya tersebut. Dia dipinjemi tape recorder dan kaset hasil rekamannya buat dia dengarkan dan dirangkum, setelah selesai merangkum dia letakkan tape recorder dan kasetnya di lemari tetapi ketika dia mau berangkat sekolah, dia sangat kaget karena tape recorder dan kasetnya hilang. Dia bingung harus bilang apa sama teman-temannya, dia mencoba mencari tape recorder dan kasetnya yang hilang tersebut kemana-mana tetapi hasilnya nihil. Dia memutuskan untuk tidak berangkat sekolah dulu sebelum tape dan kasetnya ditemukan karena kalau dia berangkat sekolah pasti dia ditanyain terus sama teman-temannya tentang tugas bahasa Indonesia dan hasil rangkumannya. Sebulan lebih sudah dia tidak berangkat sekolah, dia selalu mbolos sekolah, dia bingung harus mbolos kemana?karena dia tidak membawa motor, sehingga selama sebulan ini dia selalu mbolos sekolah di masjid sambil membaca buku pelajaran yang dia bawa. Ketika dia mulai berangkat sekolah lagi, teman-temannya pada heran karena dikiranya dia telah pindah sekolah. Dia kemudian dipanggil Wali Kelasnya untuk menghadapnya. Ketika dia menghadap Wali kelasnya, dia ditanya macam-macam tentang ketidakhadirannya selama 1,5 bulan ini dengan status Alfa. Terpaksa dia berbohong kepada Wali kelasnya bahwa dia tidak masuk sekolah selama 1,5 bulan ini karena sakit.

Berkali-kali sekolah memanggil orang tuanya melalui surat yang dititipkan ke temannya. dia pun cerdik. sebelum surat itu disampaikan ke tangan orang tuanya, dia selalu memintanya. Kemudian dia menyuruh orang lain untuk datang ke sekolah menggantikan posisi orang tuanya. Jadi semua keluarganya dan pengasuh pondok pesantrennya sama sekali tidak tahu tentang perbuatan Nanda yang tercela ini.

Suatu ketika wali kelas Nanda datang ke rumah orang tuanya. Orang tuanya pun menyambutnya dengan ramah. Wali kelasnya pun menyampaikan maksud kedatangannya. Orang tua Nanda pun sangat keheranan dan tidak percaya dengan apa yang diceritakan wali kelas Nanda. Nanda yang selama ini dikenal sangat baik, pendiem, dan penurut oleh orang tuanya ini ternyata bisa melakukan hal yang sangat tercela ini. Orang tuanya pun menangis dan langsung menanyakan kenapa dia sampai mbolos sekolah selama berbulan-bulan. Kemudian setelah kejadian tersebut, dia pindah kos-kosan, yaitu di kos-kosan yang sekarang aku tempati ini.

Walau pun Nanda sudah divonis tidak naik kelas karena absensi tetapi dia kembali bangkit dan bersemangat lagi menjalani kewajibannya sebagai pelajar berkat dukugan dari keluarganya, guru-gurunya, dan teman-temannya. Nanda pun berhasil mengejar pelajaran yang tertinggal. Ketika dibagikan nilai raport, dia termasuk 10 besar di kelasnya. Namun nilai tidak dapat mengubah keputusan atau kebijakan dari sekolah tentang kenaikan kelas, sehingga dia terpaksa tetap tidak naik kelas.

Nanda tetap semangat melanjutkan sekolah berkat dorongan atau nasehat yang diberikan keluarga dan wali kelasnya, terutama kakaknya yang ikut ngekos sama dia. Dia bisa saja pindah sekolah dan naik kelas tetapi kata kakaknya kalau misal dia pindah sekolah, dia bukan orang yang bertanggung jawab karena dia lari dari tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya sendiri. Nanda menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan guru yang paling baik. Ketika kelas XII dan mengulang kelas XI dia selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya. Dia juga pernah mengikuti Olimpiade Akuntansi tingkat karesidenan yang diadakan oleh Universitas Swasta dan berhasil mencapai babak final, namun dia gagal meraih Juara. Sekarang dia kuliah di UNDIP departemen Akuntansi.